Many of the things I learned as an interpreter are equally useful in advertising.

One such lesson is the importance of ‘back translation’ – a validation test where someone else translates your translation back into the original language.

This re-translation is the true measure of success, because it shows how well the intended message has survived communication.

Here’s an example:

Original English:

Some Japanese women believe that fairness
is more important than intelligence.

Italian translation:

Alcune donne giapponesi credono che la pelle chiara
sia piĆ¹ importante dell’intelligenza.

The ‘back translation’ – converting that Italian translation back into English:

Some Japanese women believe that pale skin
is more important than intelligence.

However, in the original, “fairness” refers to being evenhanded, not to skin pigmentation.

Looking back at that original, it’s easy to see how this misunderstanding occurred.

But if you only saw the Italian translation, you wouldn’t have the benefit of that context.

You’d only see this contentious statement, which could easily cause offense.

And therein lies the lesson: when it comes to communication, subtle nuances can have a significant impact.
Brand interpreters

Advertisers must navigate such nuances every day, because audiences only see translations.

They never see the beautifully crafted PowerPoint slides.

They never hear the eloquent strategic rationale.

They only ever see the ads.

And if they can’t translate the messages in those ads back to what we intended to share, we’ve failed.

So how do we mitigate the dangers of nuance?
From lesson to learning

During a particularly tough back-translation test, a colleague shared some invaluable advice:

It’s amazing how such a simple change can make a world of difference.

Adopted from:


I used to ponder myself with this question: what are the differences among The United Kingdom, Britain, Great Britain, England and Ireland? While the last two may be easily distinguished as separated entity, the rests are bit confusing to an average non-British like me.

Britain is usually a term used to refer United Kingdom and Great Britain, and if the word Britain can be use for both, why do we often heard people refer “the British islands” as United Kingdom and sometimes Great Britain? Are there any differences? Hmm, actually it is. United Kingdom is not the same as the Great Britain.

So what does United Kingdom mean? I’ve put in my wild guess that “United Kingdom” means the “united kingdom” of England and Ireland, since they occasionally had the same king but are different countries. To prove it, I’ve dig up some references, I found out that the full name of United Kingdom is “The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, yeah, am I right!? bzztt.. damn, I was partly right, Ireland wasn't part of the “United Kingdom”, Ireland has its own government and sovereignty even with an elected female president. Only 1/6 of the Ireland is part of United Kingdom.

So United Kingdom consists of England and part of Ireland, but uh-oh not quite, the term Great Britain does not refer only to England, but also Scotland… yeah, grab Braveheart DVD and you’ll understand. Uh oh not quite, Great Britain also includes Wales!

To summarise it,

United Kingdom = England + Scotland + Wales + Northern Ireland
= (Great Britain) + Northern Ireland

Union Jack

The source of confusion often lead by media that always refer “the United Kingdom of Great Britain and Northern Island” as just Britain, and of course the sports event, where we can see that United Kingdom “isn’t so united” at all, when the participants of Northern Ireland would compete under the flag the Republic of Ireland instead of under the UK flag, and of course the usual England vs Scotland stuff, and even where there’s a reference to Great Britain in sports even, Scotland often competes independently.

Adopted from:

Kita juga bisa belajar bahasa Inggris melalui lagu-lagu walaupun tidak semua lagu berbahasa Inggris yang mempunyai tata bahasa Inggris yang baik tapi dari situ kita juga mampu belajar dengan mengoreksinya. Kita paham mengapa lirik lagu dalam bahasa Inggris tidak banyak yang betul karena tentunya berhubungan dengan notasi yang dikomposisi sang penggubah...Cieee...sok tahu banget deh ah..:)

By the way, Salah satu yang saya rekomendasikan di sini adalah salah satu favorite saya. Lagu ini dibawakan oleh Whitney Houston dan sebelumnya juga pernah dibawakan oleh George Benson. Kenapa lagu ini? Simak liriknya! Ada banyak hal yang 'menggugah'dan nilai-nilai yang baik menurut saya. Cekidot! :)

I believe the children are our are future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be
Everybody searching for a hero
People need someone to look up to
I never found anyone who fulfill my needs
A lonely place to be
So I learned to depend on me

I decided long ago, never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity
Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me
The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children's laughter remind us how we used to be


And if by chance, that special place
That you've been dreaming of
Leads you to a lonely place
Find your strength in love

Conditional sentences hanya bisa dengan mudah dipahami bila Anda telah menguasai Tenses yang telah kami posting sebelumnya.

Conditional Sentences(Kalimat Pengandaian) menjelaskan bahwa sebuah kegiatan bertentangan dengan kegiatan yang lain. Conditional yang paling umum adalah Real Conditonal dan Unreal Conditonal, kadang-kadang disebut juga if-clauses.

Real Conditional (sering juga disebut juga dengan Conditional Tipe I) yang menggambarkan tentang mengandai-andai sesuai dengan fakta.

Unreal Conditional (sering juga disebut sebagai Conditional Tipe II) yang menggambarkan tentang pengandaian yang tidak nyata atau berimajinasi.

Ada juga Conditional yang ke-3 yang sering disebut dengan Conditional Tipe III, digunakan sebagai penyesalan yang terjadi di masa lampau dan zero conditional, digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang sudah pasti benar.

Catatan: Jika klausa "if" diletakkan di awal kalimat, kita harus menggunakan koma (,). Sebaliknya jika klausa "if" berada di belakang, maka tidak perlu ada koma

Zero Conditional

Digunakan untuk mengekspresikan kebenaran umum. Tense yang digunakan biasanya Present Simple Tense

Conditional I

Digunakan untuk mengekspresikan pengandaian yang dibuat berdasarkan fakta di masa sekarang atau masa yang akan datang dan pengandaian ini bisa saja terjadi. Klausa 'if' biasanya dalam bentuk Present Simple Tense.


If you come on time, You will find me there.

Kalimat ini mengindikasikan kemungkinan untuk bertemu dengan saya sangat mungkin karena syarat-syaratnya ada/bisa dipenuhi.

Kita sering menggunakan unless yang artinya 'jika... tidak

I won't mark your homework,unless you hand it in.

Conditional Tipe II

Digunakan untuk mengekspresikan situasi yang tidak nyata di masa sekarang atau masa yang akan datang. Tipe ini digunakan untuk mengekspresikan sebuah harapan. Tenses yang digunakan dalam klausa IF adalah Past Simple Tense.


If I won the lottery,I would buy a new house.

Di sini, kemungkinannya masih 50:50.

Conditional Tipe III

Digunakan untuk mengekspresikan sebuah kondisi di masa yang lampau yang tidak mungkin akan terjadi lagi. Sering digunakan untuk mengkritik atau penyesalan. Tenses yang digunakan dalam Klausa IF adalah Past Perfect Tense.


If I had worked harder,I would have passed my exam.

Sayangnya, saya kurang maksimal berusaha sehingga saya tidak berhasil lulus.

Simple Future Tense

Punya banyak rencana (plan/intention)? atau apakah Anda gemar berwacana atau malah gemes dengar orang apalagi pemimpin yang gemar berwacana saja? Kita biasanya mengatakan orang-orang seperti itu sebagai Mr/Ms NATO alias OMDO, omong doang...hehehhe...Kok ngalar ngidul ya?

Ya sekarang kita masuk ke pelajaran tentang hal-hal yang belum kita lakukan tetapi berniat atau berencana melakukannya, terlepas jadi atau tidaknya kita merealisasikan rencana itu.

Dalam bahasa Inggris, kalimat itu terstruktrur dalam Simple Future Tense (SFT)
SFT memiliki pola kalimat sbb:

S + will/shall + V1 + Complement (pelengkap) (Positive)
S + to be going to + Complement

S + will/shall not + V1 + Complement (Negative)
to be going to
Will not biasa disingkat dengan won't dan shall not disingkat dengan shan't

Will/shall + S + V1 + Complement ? (Interrogative)
to be going to

Yang perlu kita cermati dalam memahami SFT adalah kapan penggunaan will/shall atau to be going to digunakan.Ketiganya berarti sama yaitu "akan".

Will bisa digunakan dengan Subject apa saja, sementara shall hanya dengan I dan we saja. Jadi tidak ada, She shall go, dsb.
Baik will maupun shall digunakan untuk rencana kegiatan yang belum pasti kita lakukan. Kita belum begitu yakin (less than 100% of probability.
Berbeda dengan to be going to yang demikian mantap kepastiannya. Penggunaan to be going to juga dapat digunakan oleh semua Subject seperti halnya pada will.

Jadi, I will go to London berbeda dengan I am going to London karena untuk kalimat yang pertama belum yakin pergi ke Londonnya.

Selain itu, bila kalimat yang kata yang dibuat setelah kata will/shall/to be going to bukan kata kerja (verbs) maka, kita cukup kata be. Contoh I will be there, dsb.

Mudah bukan?

Pernah ditanya sudah berapa lama anda bekerja di tempat anda sekarang? kira-kira bagaimana ya pertanyaannya dalam bahasa Indonesia?

Tipikalnya sih seperti ini, sudah berapa lama sih kamu kerja di sini? terus gimana ya buat pertanyaanya dalam bahasa Inggris?

Di situlah Tense ini digunakan, maka pertanyaannya adalah: How long have you been working here?

kira-kira jawaban teman2 katakanlah seperti ini: saya sudah bekerja di sini sejak tahun 2006.

jadinya, I have been working here since 2006.

Apa yang dapat disimpulkan dari kalimat-kalimat dalam Tense ini.

- Ya! ia menjelaskan tentang durasi lamanya masa suatu aktivitas yang dikerjakan oleh subyek. Pada kalimat di atas "saya sudah bekerja di sini sejak tahun 2006" ATAU "I have been working here since 2006."
Lamanya suatu pekerjaan diterangkan dari saat mulai hingga saat dibicarakan. Makanya Tense ini menggunakan kata "For" = selama atau "Since"= sejak.


I have been working here since 2006

I have been working here for 4 years.

Arti kedua kalimat sih sama saja, dimana yang pertama menerangkan tahun dimulainya bekerja, sementara yang kedua menerangkan durasi yaitu lamanya masa bekerja.

- Polanya adalah : Subyek + Have/has + V-ing + since / for...

Sederhana bukan? Dan Tense ini juga kerap disebut dengan Present Perfect Progressive Tense.

Past Perfect Tense

I had eaten my breakfast before I left home this morning.

Apa yang ada di benak teman-teman melihat kalimat ini? apakah ada dua peristiwa? ya. Apa saja? makan dan pergi atau meninggalkan rumah. Kapan? di masa lampau? ya yaitu di pagi hari. Ada perbuatan yang terjadi lebih dahulu? ya yaitu makan atau sarapan.

Nah itulah pemakaian Past Perfect Tense, yaitu untuk menerangkan dua kejadian/peristiwa yang terjadi di masa lalu. Penekanannya adalah pada kalimat pertama yaitu I had Eaten yang polanya menggunakan auxiliary 9kata kerja bantu) had + V3. Sementara untuk kalimat kedua kita menggunakan pola Past Tense: left (V2).

Jadi Past Perfect Tense adalah untuk menggambarkan peristiwa kejadian yang mendahului satu peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Contoh lain:

Saya berbicara dengan Johny sebulan sebelum dia meninggal.

I had talked to Johny a month before he passed away....
Pola kalimat

S + had + V3

Gampang bukan?